Jumat, 12 April 2013

manusia sebagai makhluk sosial


Manusia sebagai makhluk sosial
A.    Hakikat manusia sebagai makhluk sosial

Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial karena manusia tidak mampu hidup sendiri, manusia saling membutuhkan satu sama lain. Oleh karena itu manusia butuh orang lain untuk dapat saling berinteraksi. Aristoteles mengatakan Manusia itu Zoon Politicon yang artinya satu individu dengan individu lainnya saling membutuhkan satu sama lain sehingga keterkaitan yang tak bisa dipisahkan dalam kehidupan bermasyarakat. Sedang menurut Freud, super-ego pribadi manusia sudah mulai dibentuk ketika ia berumur 5-6 tahun dan perkembangan super-ego tersebut berlangsung terus menerus selama ia hidup. Super-ego yang terdiri dari atas hati nurani, norma-norma, dan cita-cita pribadi itu tidak mungkin terbentuk dan berkembang tanpa manusia itu bergaul dengan manusia lainnya, sehingga sudah jelas bahwa tanpa pergaulan sosial itu manusia itu tidak dapat berkembang sebagai manusia seutuhnya.

Kita bisa bayangkan bagaimana jika kita hidup seorang diri, menutup diri terhadap orang lain, melakukan segala sesuatu seorang diri, dan tidak berinteraksi dengan orang lain, tentu tidak menyenangkan bukan.

Sebagai makhluk sosial tentu manusia membutuhkan wadah atau tempat untuk saling berinteraksi. Keluarga dan masyarakat merupakan salah satu wadah bagi manusia untuk berinteraksi. Keluarga merupakan kelompok kecil dari masyarakat. Kumpulan keluarga ini akan membentuk sebuah masyarakat.

B.    Alasan manusia dikatakan sebagai makhluk sosial

Berikut merupakan alasan kenapa manusia dikatakan sebagai makhluk sosial :

a.       Manusia tunduk pada aturan dan norma sosial.
b.      Perilaku manusia mengharapkan suatu penilaian dari orang lain.
c.       Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain.
d.      Potensi manusia akan berkembang bila ia hidup di tengah-tengah manusia.
e.        mahluk yang di dalam hidupnya tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh manusia lain.
f.        Manusia merupakan makhluk yang suka bergaul.
g.       Manusia suka bekerja sama.
h.      Manusia selalu hidup berkelompok.
i.         Memiliki kepedulian terhadap orang lain.

C.    Peranan manusia sebagai makhluk sosial

Peran manusia terhadap lingkungan

Manusia mempunyai pengaruh penting dalam kelangsungan ekosistem serta habitat manusia itu sendiri, tindakan-tindakan yang diambil atau kebijakan-kebijakan tentang hubungan dengan lingkungan akan berpengaruh bagi lingkungan dan manusia itu sendiri.
Kemampuan kita untuk menyadari hal tersebut akan menentukan bagaimana hubungan kita sebagai manusia dan lingkungan kita. Hal ini memerlukan pembiasaan diri yang dapat membuat kita menyadari hubungan manusia dengan lingkungan. Manusia memiliki tugas untuk menjaga lingkungan demi menjaga kelansungan hidup manusia itu sendiri dimasa yang akan datang.
Secara alamiah manusia berinteraksi dengan lingkungannya, manusia sebagai pelaku dan sekaligus dipengaruhi oleh lingkungan tersebut. Perlakuan manusia terhadap lingkungannya sangat menentukan keramahan lingkungan terhadap kehidupannya sendiri. Manusia dapat memanfaatkan lingkungan tetapi perlu memelihara lingkungan agar tingkat kemanfaatannya bisa dipertahankan bahkan ditingkatkan.

Peran manusia terhadap sesama

      Dalam interaksi yang terjadi, terkadang terjadi perselisihan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Hal tersebut terjadi karena adanya perbedaan persepsi yang dimiliki oleh kedua belah pihak. Permasalahan yang terjadi dalam kegiatan interaksi sudah menjadi hal yang lumrah. Adanya perbedaan persepsi, perbedaan cara pandang, perbedaan pemikiran dan perbedaan sifat dapat menyebabkan perselisihan dan permasalahan terjadi. Sebagai makhluk sosial manusia dituntut untuk mampu menghadapi dan mengatasi permasalahan perselisihan tersebut.
      Sifat toleransi tentu perlu dimiliki oleh setiap manusia. Dengan sifat toleransi ini manusia dapat menerima pendapat orang lain meskipun pendapat orang lain tersebut berbeda dengan pendapatnya,sehingga perselisihan dapat dihindari.
      Sebagai makhluk sosial yang beradab dan bermoral manusia diharapkan mampu mengatasi permasalahan-permasalahan yang terjadi antar sesama makhluk sosial.

Peran manusia terhadap diri sendiri

      Pada dasarnya masalah terbesar yang dihadapi manusia sepanjang masa adalah masalah tentang dirinya sendiri.
      Dimensi yang memperhatikan fungsi dan peran manusia dalam kehidupan masyarakat  antara lain:
1.      Kepribadian sebagai manusia, yaitu kemampuan untuk menjaga integritas, termasuk sikap dan tingkah laku, etika dan moralitas sesuai dengan pandangan masyarakat.
2.      Kepribadian sebagai manusia yang menyangkut apa yang dihasilkan oleh manusia, dalam hal jumlah yang lebih banyak dan kualitas yang lebih baik.
3.      Kreativitas yaitu kemampuan seseorang untuk berpikir dan berbuat kreatif, menciptakan sesuatu yang berguna bagi diri sendiri dan masyarakat.

Dalam kehidupan bermasyarakat, berkaitan dengan kualitas individu sebagai manusia beragama dan bermasyarakat, hal itu juga membutuhkan kualitas yang lain, yaitu:
1.      Spiritual, menyangkut hubungannya dengan Tuhan yang penting dan diperlukan dengan mengejar ketenangan bathin dan ketenteraman jiwa serta kebahagiaan.
2.      Bermasyarakat dan berbangsa, menyangkut keserasian hubungan dengan sesama manusia dan hubungan dengan lingkungan sosial.
3.      Kesadaran lingkungan hidup, menyangkut keserasian dan hubungan saling mendukung antar manusia dan alam sekitarnya ( Muhammad Tholhah Hasan, 2003 : 61 )

D.     Perubahan Sosial
Perubahan sosial adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat yang mencakup perubahan dalam aspek-aspek struktur dari suatu masyarakat, atau karena terjadinya perubahan dari faktor lingkungan, dikarenakan berubahnya sistem komposisi penduduk, keadaan geografis, serta berubahnya sistem hubungan sosial, maupun perubahan pada lembaga kemasyarakatannya. Perubahan ini menyangkut pada seluruh segmen yang terjadi di masyarakat pada waktu tertentu. Perubahan sosial dalam masyarakat bukan merupakan sebuah hasil atau produk tetapi merupakan sebuah proses. Perubahan sosial merupakan sebuah keputusan bersama yang diambil oleh anggota masyarakat. Konsep dinamika kelompok menjadi sebuah bahasan yang menarik untuk memahami perubahan sosial.


Berdasarkan besar kecilnya pengaruh yang terjadi pada masyarakat, perubahan sosial dibagi menjadi 2, yakni perubahan sosial yang besar dan perubahan sosial yang kecil. Perubahan sosial yang besar pada umumnya adalah perubahan yang akan membawa pengaruh yang besar pada masyarakat. Misalnya, terjadinya proses industrialisasi pada masyarakat yang masih agraris. Di sini lembaga-lembaga kemasyarakatan akan terkena pengaruhnya, yakni hubungan kerja, sistem pemilikan tanah, klasifikasi masyarakat, dan lainnya. Sedangkan perubahan sosial yang kecil adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang tidak membawa akibat yang langsung pada masyarakat. Misalnya, perubahan bentuk potongan rambut pada seseorang, tidak akan membawa pengaruh yang langsung pada masyarakat secara keseluruhan. Hal ini dikarenakan tidak akan menyebabkan terjadinya perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan.
Arah Timbulnya Faktor Perubahan Sosial
Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan.
Dalam kehidupan nyata, perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat, pasti akan terjadi. Setiap segmen masyarakat hendaknya fleksibel terhadap perubahan yang akan terjadi baik cepat maupun lambat. Dengan keunggulan seperti itu, masyarakat akan mengurangi tingkat pengaruh negatif dari perubahan ini. Arah timbulnya pengaruh pun dapat berasal dari dalam maupun luar. Berikut adalah penjelasan faktor-faktor perubahan sosial berdasarkan arah timbulnya pengaruh.
a. Internal Factor
Internal factor (faktor dalam) adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam masyarakat itu yang menyebabkan timbulnya perubahan pada masyarakat itu sendiri baik secara individu, kelompok ataupun organisasi. Berikut ini sebab-sebab perubahan sosial yang bersumber dari dalam masyarakat (sebab intern).
1)                         Dinamika penduduk, yaitu pertambahan dan penurunan jumlah penduduk. Pertambahan penduduk yang sangat cepat akan mengakibatkan perubahan dalam struktur masyarakat, khususnya dalam lembaga kemasyarakatannya. Salah satu contohnya disini adalah orang akan mengenal hak milik atas tanah, mengenal system bagi hasil, dan yang lainnya, dimana sebelumnya tidak pernah mengenal. Sedangkan berkurangnya jumlah penduduk akan berakibat terjadinya kekosongan baik dalam pembagian kerja, maupun stratifikasi social, hal tersebut akan mempengaruhi lembaga-lembaga kemasyarakatan yang ada.

2)                         Adanya penemuan-penemuan baru yang berkembang di masyarakat, baik penemuan yang bersifat baru (discovery) ataupun penemuan baru yang bersifat menyempurnakan dari bentuk penemuan lama (invention). Suatu proses social dan kebudayaan yang besar, tetapi terjadi dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama disebut dengan inovasi. Proses tersebut meliputi suatu penemuan baru, jalannya unsur kebudayaanbaru yang tersebar ke lain-lain bagian masyarakat, dan cara-cara unsure kebudayaan baru tadi diterima, dipelajari dan akhirnya dipakai dalam masyarakat yang bersangkutan. Penemuan baru sebagai akibat terjadinya perubahan-perubahan dapat dibedakan dalam pengertian discovery dan inventionDiscovery adalah penemuan unsur kebudayaan yang baru, baik berupa alat ataupun yang berupa gagasan yang diciptakan oleh seorang individu atau serangkaian ciptaan para individu. Discovery sendiri akan berubah menjadi invention, jika masyarakat sudah mengakui, menerima serta menerapkan penemuan baru tersebut.

3)                         Munculnya berbagai bentuk pertentangan (conflict) dalam masyarakat. Pertentangan ini bisa terjadi antara individu dengan kelompok atau antara kelompok dengan kelompok. Mmisalnya saja pertentangan antara generasi muda dengan generasi tua. Generasi muda pada umumnya lebih senang menerima unsur-unsur kebudayaan asing, dan sebaliknya generasi tua tidak menyenangi hal tersebut. Keadaan seperti ini pasti akan mengakibatkan perubahan dalam masyarakat.

4)                         Terjadinya pemberontakan atau revolusi sehingga mampu menyulut terjadinya perubahan-perubahan besar. Revolusi yang terjadi pada suatu masyarakat akanm membawa akibat berubahnya segala tata cara yang berflaku pada lembaga-lembaga kemasyarakatannya. Biasanya hal ini diakibatkan karena adanya kebijaksanaan atau ide-ide yang berbeda. Misalnya, Revolusi Rusia (Oktober 1917) yang mampu menggulingkan pemerintahan kekaisaran dan mengubahnya menjadi sistem diktator proletariat yang dilandaskan pada doktrin Marxis. Revolusi tersebut menyebabkan perubahan yang mendasar, baik dari tatanan negara hingga tatanan dalam keluarga.
b. External Factor
Selain internal factor, pada masyarakat juga dikenal external factorExternal factor atau faktor luar adalah faktor-faktor yang berasal dari luar masyarakat yang menyebabkan timbulnya perubahan pada masyarakat. Berikut ini sebab-sebab perubahan sosial yang bersumber dari luar masyarakat (sebab ekstern).
1)             Adanya pengaruh bencana alam. Kondisi ini terkadang memaksa masyarakat suatu daerah untuk mengungsi meninggalkan tanah kelahirannya. Apabila masyarakat tersebut mendiami tempat tinggal yang baru, maka mereka harus menyesuaikan diri dengan keadaan alam dan lingkungan yang baru tersebut. Hal ini kemungkinan besar juga dapat memengaruhi perubahan pada struktur dan pola kelembagaannya.
2)             Adanya peperangan, baik perang saudara maupun perang antarnegara dapat menyebabkan perubahan, karena pihak yang menang biasanya akan dapat memaksakan ideologi dan kebudayaannya kepada pihak yang kalah. Misalnya, terjadinya perang antarsuku ataupun negara akan berakibat munculnya perubahan-perubahan, pada suku atau negara yang kalah. Pada umunya mereka yang menang akan memaksakan kebiasaan-kebiasaan yang biasa dilakukan oleh masyarakatnya, atau kebudayaan yang dimilikinya kepada suku atau negara yang mengalami kekalahan. Contohnya, jepang yang kalah perang dalam Perang Dunia II, masyarakatnya mengalami perubahan-perubahan yang sangat berarti.
3)             Adanya pengaruh kebudayaan masyarakat lain. Bertemunya dua kebudayaan yang berbeda akan menghasilkan perubahan. Jika pengaruh suatu kebudayaan dapat diterima tanpa paksaan, maka disebut demonstration effect. Jika pengaruh suatu kebudayaan saling menolak, maka disebut cultural animosity. Adanya proses penerimaan pengaruh kebudayaan asing ini disebut dengan akulturasi. Jika suatu kebudayaan mempunyai taraf yang lebih tinggi dari kebudayaan lain, maka akan muncul proses imitasi yang lambat laun unsur-unsur kebudayaan asli dapat bergeser atau diganti oleh unsur-unsur kebudayaan baru tersebut. Pengaruh-pengaruh itu dapat timbul melalui proses perdagangan dan penyebaran agama.

E.     faktor-faktor yang mendorong manusia untuk hidup bermasyarakat

1.      Adanya dorongan-dorongan atau hasrat-hasrat yang merupakan unsur-unsur kejiwaan.
2.      Faktor-faktor psikis  yang mempengaruhi manusia dalam bergaul dengan manusia lainnya didalam hidup bermasyarakat.
  1. Faktor hasrat harga diri dengan hasrat hidup dengan manusia lain.
  2. Hasrat ingin berkuasa.
  3. Adanya kenyataan manusia itu adalah serba tidak bisa atau sebagai makhluk lemah. karena itu ia selalu mendesak atau menarik kekutan bersama, yang terdapat dalam perserikatan dengan orang lain
  4. Karena terjadinya ‘Habit’ pada tiap-tiap diri manusia. Manusia bermasyarakat karena ia telah biasa mendapat bantuan yang berfaedah yang diterimanya sejak kecil dari lingkungannya.

  5. Adanya kesamaan keturunan, kesamaan teritorial, kesamaan cita-cita, kesamaan nasib, kesamaan kebudayaan.
8.      Adanya dorongan seksual, yaitu dorongan manusia untuk mengembangkan keturunan atau jenisnya.
F.    faktor – faktor yang menghambat manusia untuk hidup bermasyarakat

1.      Tidak memiliki kesamaan tujuan dan harapan dalam membangun kehidupan bermasyarakat yang aman, rukun dan damai. Justru saling mengeksploitasi.
2.      Tidak memiliki kekuatan dan pertahanan dalam menghadapi ancaman dari luar serta tidak adanya kesamaan persepsi dalam membangun kehidupan bermasyarakat.
3.      Minimnya solidaritas untuk meningkatkan rasa saling pengertian dan kerja sama untuk memecahkan persoalan sosial budaya.
4.      Minimnya pemahaman anggota masyarakat terhadap nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
5.      Tidak adanya figur sentral yang kharismatik yang mampu menyatukan persepsi dan persamaan kata dan perbuatan untuk membangun kehidupan bermasyarakat.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar